Fixed Mindset vs Growth Mindset pada Tes Karakter
Teman-teman semua pasti pernah melakukan tes karakter, baik tes STIFIn (Sensing, Thinking, Intuiting, Feeling, Insting), DISC (Dominance, Influence, Steadiness, Compliance), maupun MBTI (16 Karakter).
Amat menarik dan seru bukan?
Kita merasa dimengerti, seraya mengangguk-angguk.
"Iya ya.. ini sih aku banget", misalnya.
Manfaatnya juga beragam.
Selain dapat mengenali diri dan meningkatkan potensi diri, kita juga menjadi tahu bagaimana cara mengenali karakter orang lain untuk dapat menyesuaikan cara berinteraksi dengan mereka.
Ada hal menarik yang saya dapatkan saat pelatihan kemarin.
1. Karakter dapat berubah seiring waktu.
Karakter dapat berubah sesuai dengan pengalaman, pendidikan, serta kejadian yang menimpa.
2. Karakter tidak tunggal, melainkan presentase.
Misalnya, satu individu dapat mewakili kerja keras dominance, sikap tenang steadiness, daya analitik compliance, dan keramahan influence.
3. Sifat buruk dalam karakter bukanlah pembenaran perilaku.
Seseorang dengan fixed mindset akan terpaku pada hasil tesnya dengan membawanya sebagai pembenaran.
Misalkan: "Iya saya memang begini, memang sifat saya pemarah, kamu harus memahami dong."
Atau, "Ya saya memang orangnya tidak bisa rapi dan disiplin, tolong dimaklumkan dong."
Jika kita belajar untuk memiliki growth mindset, maka kita akan memutuskan untuk merubah sifat kurang baik dari karakter bawaan.
Kebiasaan marah bisa diregulasi, ketidakrapihan bisa diperbaiki.
Sehingga yang diharapkan dari pengetahuan tentang karakter adalah terciptanya versi terbaik dari diri kita sendiri.
Komentar
Posting Komentar