Postingan

Journal of Gratitude as A Mom

Hari yang biasa di rumah kami, akan tetapi malam ini, ketika anak-anak sudah terlelap, aku ingin mengenangnya melalui tulisan. Sebab aku yakin, perasaan hangat dan penuh ini datangnya dari Allah. Aku ingin menuliskannya sebagai wujud syukur. Sejak Ramadhan, aku menjadi lebih sering memasak alias back to the kitchen. Anak-anak selalu lahap memakan masakanku dan itu cukup membuatku terharu. Sore ini, anak-anakku juga makan dengan lahap. Momen berbuka puasa bersama di rumah membuat kami berempat menjadi lebih dekat, dan itu membuat anak-anakku semakin riang dan bersemangat. Semoga setelah bulan Ramadhan ini, kami tetap konsisten untuk menyediakan waktu makan bersama yang berkualitas (tanpa distraksi). Syukurku yang berikutnya, Jika ditarik 3 hari ke belakang, 3 hari berturut-turut anak-anakku makan daging sapi. Tumis daging giling, sop daging sapi, lalu hari ini semur daging. Aku menuliskannya sebagai syukur, karena biasanya kami menyajikan menu daging untuk 1 minggu sekali. Bersyu...

Menang Melawan Diri Sendiri

​Sore itu, anakku menangis dan tantrum tanpa sebab menjelang waktu tidur. ​Awalnya diriku sabar dan tenang. Begitu teriakkan dan tangisnya sudah berlangsung di atas 20 menit, kesabaranku sudah hampir habis. ​Meski begitu, tetap kuusap-usap anak manisku, kupijit-pijit kakinya, ia masih juga berontak, kupeluk lagi, kuusap lagi punggungnya. ​Tangis dan tantrum tetap berlangsung lama. Kesal dan marah bergumul di dadaku dan sudah hampir termuntahkan dari kerongkongan. ​Teringat teori conscious parenting yang sudah genap kupelajari. ​Kutarik napas dalam, kuambil Al-Ma'tsurot dan kubaca sambil mengusap rambutnya. Tangisnya masih ada namun berjeda, tidak terus-menerus, lama-kelamaan mereda. ​10 menit tak terasa berlalu, Al-Ma'tsurot sudah habis kubaca, kami berpelukan, kuusap-usap kepalanya dan kupijit-pijit kakinya. ​Tangisnya mereda, hampir 1 jam kami melalui proses tersebut. Aku lega, marahku tidak berubah menjadi bentakkan yg mungkin akan membuat luka di hatinya, kesalku tidak b...

Perjalanan Membaca di Tahun 2025

Di awal tahun, aku menetapkan angka target membaca 25 buku dalam 1 tahun ini. Yaaa.. 25 in 25 (supaya cantik) Alhamdulillah tercapai, bahkan melebihi target! *celebrating my small win* Jika selama ini aku menghabiskan banyak buku non-fiksi, tahun ini aku melahap banyak buku-buku fiksi. Dari buku-buku fiksi, aku berkelana ke dunia yang belum pernah kudatangi, aku melihat dari perspektif yang belum pernah kubayangkan, aku mendengar suara yang selama ini begitu jauh, dan aku merasakan banyak perasaan yang belum pernah kurasakan sebelumnya. Hatiku penuh. Benar kata J.S Khairen, buku fiksi untuk hati, non-fiksi untuk otak. Bacalah keduanya. Selain itu, seperti tahun-tahun sebelumnya, aku termotivasi mengikuti reading challenge dari bbbbookclub (Buibu Baca Buku Book Club), dan tahun ini aku semakin termotivasi karena komunitas ini mengadakan pertemuan offline ! di Depok. Tepatnya di Aksata Coffee & Library. Semangatku selalu tumbuh saat berangkat dan hatiku selalu penuh saat p...

Menikah: adjust everything consciously, sincerely.

Refleksi 7 tahun pernikahan (jelang 8). Saya dan suami menikah karena teman sekolah dulunya. Sepakat menikah karena melihat karakter-karakter yang disukai dan kiranya cocok sebagai teman perjalanan. Visi kami menikah untuk membangun generasi islami dan berjuang di dunia agar dapat berkumpul kembali di surga kelak, lillahi ta'ala. Menyadari sepenuhnya bahwa menikah adalah ibadah terlama, jalan yang kami tempuh tentunya panjang. Bukan cinta yang sementara yang kami harap, namun cinta yang menetap dan senantiasa dirawat agar tumbuh subur. Bersyukur memutuskan menikah bukan dalam keadaan hati terlampau berbunga-bunga, melainkan melalui istikhoroh serta hati yang tenang; dengan mindful. Saat menjalani kehidupan rumah tangga, murni berisi syukur dan sabar. Syukur atas apa yang disenangi dan sabar atas apa yang tidak sesuai ekspektasi. Cinta adalah kata kerja, bukan sebatas rasa. Cinta adalah usaha untuk saling membentuk harmoni. Baik suami maupun istri, memiliki latar serta kebiasaan kel...

Keluar dari Belenggu Membandingkan

Derasnya arus informasi dan masifnya pengguna media sosial membuat antar individu dapat melihat maupun menampakkan kehidupan pribadinya. Dari teman hingga selebgram.  Dari rumah impian hingga destinasi liburan.  Dari menu makanan hingga tren pakaian.  Dari prestasi hingga pekerjaan.  Secara sadar mudah saja kita mengelak.  "Tidak berpengaruh pada kehidupanku kok." Ya.. mungkin betul, mungkin juga tidak.  Sisi positifnya tentu ada, let's say .. inspirasi, ragam info terkini, senang karena dapat tetap  keep up dengan teman lama, bertemu circle baru, etc..  Namun ada sisi lain, secara tidak sadar, walaupun sedikit.  Mungkin terbesit pikiran membandingkan kehidupan orang lain dengan kehidupan sendiri.  Sayangnya, tak banyak yang mau mengakui dan jujur pada diri sendiri.  Hingga celakanya, hal tersebut membuat diri tidak bersyukur dengan apa yang sudah dimiliki.  Hal manusiawi.. Untuk memiliki lebih banyak keinginan dibandingkan m...

Live for the Moment

Cinta menjadi lebih sederhana setelah Tsabit dan Qiya lahir.  Sesederhana beradu mata dengan mereka saat sedang bermain di rumah.  Sesederhana mendengarkan cerita mereka dan saling tanya-jawab saat sedang makan bersama di rumah.  Sesederhana mengejar mereka yang tidak mau dipakaikan baju.  Sesederhana membujuk mereka untuk mandi dan juga membujuk mereka untuk berhenti mandi.  Sesederhana mencium aroma tubuh mereka di pagi, siang, dan malam hari.  Sesederhana pelukan di pagi hari dan malam hari.  Sesederhana mengusap lukanya saat mereka terjatuh.  Sesederhana mendekap saat mereka merasa tidak nyaman.  Sesederhana rasa yang tidak bisa diucapkan lewat kata.  Every moment matters.  Hiduplah berkesadaran, live in the moment.  Allah.. Terima kasih telah menjawab do'a-do'aku 💖

Puzzle Mendidik Anak

Berdasarkan pengamatanku, sependek pengetahuanku, dan ikhtiar yang sedang aku usahakan (bi idznillah), dalam menumbuhkan seorang anak, ada 3 puzzle yang tidak boleh hilang salah satu bagiannya saja: 1. Bonding (kelekatan) yang kuat dan teladan yang baik dari orangtua yang matang emosinya 2. Lingkungan (pertemanan dan pendidikan) yang membentuk karakter baiknya 3. Guru hebat yang tulus membinanya di sepanjang hidupnya Katalisatornya: do'a tulus orangtua yang tak pernah putus Allah, mudahkan kami, laa haula walaa quwwata illa billah.  Sungguh tiada daya dan kekuatan tanpa pertolongan-Mu ya Allah.