Postingan

What I Take from Podcast Suara Berkelas: Maudy Ayunda & Bilal Faranov

Sebuah privilege: Kita cukup sehat dan tercukupi, sampai kita bisa mempertanyakan our internal soul's, "apa mimpi selanjutnya?", "what does our soul truly want?", "apa yg akan/mau kita lakukan selanjutnya?" Karena apa? Karena orang sakit hanya ingin sehat. So, sehat dan tercukupi = PRIVILEGE. Karakter dari orang-orang di sekitar Maudy saat bersekolah: - Humility around curiosity (kerendahan hati dalam menghadapi rasa ingin tahu), yakni sadar kita bisa salah, tetap terbuka dengan pendapat orang lain, serta adaptif. - Memiliki genuine feeling dan desire for growth. - Sense of having two time horizons: >>Long-term vision (visi jangka panjang) >>Short-term action (langkah yang harus dilakukan sekarang), step by step. Sosial media adalah distraksi yg membuat bingung jika kita tidak punya goal >> mudah berubah-ubah ingin menjadi ini dan itu karena terlalu banyak pilihan. ↓ going offline, go to your inner circle → remember you who you are. ...

What I Take from Podcast Suara Berkelas: Sabrina Anggraini & Bilal Faranov

 - Motherhood itu justru memiliki andil besar dalam tujuan hidup seorang wanita; karena ia memiliki prioritas anak, ia akan menjadi lebih selektif dalam menilai kesempatan/tawaran, apakah ini worth it for me , apakah ini  waste my time , apakah ini fits my schedule/is flexible with my schedule >> sehingga hal-hal yang kurang bermanfaat untuk kehidupan kita akan otomatis kita cut . - Sebagai anak, yang kita ingat dari orangtua kita bukan hadiah besar, yang kita ingat dalam alam bawah sadar kita adalah gesture kecil orangtua kita >> apakah orangtua kita menunjukkan gestur senang dengan kehadiran kita, apakah orangtua kita peduli kepada kita, apakah orangtua kita sering mengabaikan kita. - Kita overthinking , karena secara nature , otak kita protects us from risks or pain that might happen ; terkadang overthinking membuat kita take no action /takut bertindak. - Belajar untuk melakukan methodological experiment terhadap hidup, lalu analyze and investigate the result...

To Be Loved Like This

Semalam, suamiku mengajakku duduk berdua, dan seperti biasa, suamiku menasihatiku to the point.  Aku merasa nasihat suamiku berharga, oleh karenanya akan kurangkum dalam beberapa poin utama: ​ ATENSI Waktumu dalam sehari, hanya 24 jam. Porsi atensi yang digunakan untuk hal yang bukan prioritas atau hal yang kurang bermanfaat, akan semakin menjauhkanmu dari tujuan awal. Aku tidak mau atensi istriku ada pada kehidupan orang lain atau bahkan gosip selebgram, aku mau atensi istriku ada pada pengembangan diri dan keluarga, aku mau atensi istriku pada ilmu pengetahuan . ​ DUKUNGAN Suamiku bilang: Kamu mau hidup santai seperti sekarang, aku dukung. Kamu mau susah payah mengejar cita-cita kamu juga aku dukung. Tapi jangan mengharapkan hasil yang berbeda dari proses. Hasil itu bergantung pada keputusan-keputusan kecil yang kamu buat setiap harinya. ​ GROWTH MINDSET Growth mindset itu kalau dalam islam seperti husnuzhon. Kamu berusaha karena kamu yakin akan ada hal baik kalau kamu berusaha. ...

Top 5 (+1) Ayat Al-Qur'an yang Paling Berkesan di Hidupku

Gambar
1. Q.S Al-Mu'minun 1-11 (Tentang warisan terindah) Ketika masa orientasi siswi SMP, kami diminta menghafalkan surat ini. Diawali ayat pertama: Qod aflahal mu'minun (sungguh beruntung orang beriman), Allah lalu menjelaskan sifat orang beriman dari ayat pertama sampai ayat 9. Lalu di ayat 10 dan 11 langsung deg.. nangis.. indah sekali kata-kata ini. Mewarisi harta ❌️, mewarisi sifat ❌️, mewarisi kecantikan ❌️ Mewarisi surga firdaus, dan kekal di dalamnya ✅️✅️✅️🥺🥺🥺 2. Q. S Al-Hijr: 16 (Hadiah untuk penatap langit) Menemukan angka unik: Juz ke-14, Surah ke-15, Ayat ke-16.  Aku yang senang memandang langit sejak dulu, merasa ayat ini adalah hadiah dari Allah. "Dan sungguh, Kami telah menciptakan gugusan bintang di langit dan menjadikannya indah bagi orang yang memandang(nya)." So sweet banget 🥹💖 3. Q.S An-Nisa: 9 (Parenting & generasi yang kokoh) Sebelum dan ketika menjadi orangtua, diriku senang dengan ilmu parenting dan tertarik dengan segala hal tentang nurturi...

Journal of Gratitude as A Mom

Hari yang biasa di rumah kami, akan tetapi malam ini, ketika anak-anak sudah terlelap, aku ingin mengenangnya melalui tulisan. Sebab aku yakin, perasaan hangat dan penuh ini datangnya dari Allah. Aku ingin menuliskannya sebagai wujud syukur. Sejak Ramadhan, aku menjadi lebih sering memasak alias back to the kitchen. Anak-anak selalu lahap memakan masakanku dan itu cukup membuatku terharu. Sore ini, anak-anakku juga makan dengan lahap. Momen berbuka puasa bersama di rumah membuat kami berempat menjadi lebih dekat, dan itu membuat anak-anakku semakin riang dan bersemangat. Semoga setelah bulan Ramadhan ini, kami tetap konsisten untuk menyediakan waktu makan bersama yang berkualitas (tanpa distraksi). Syukurku yang berikutnya, Jika ditarik 3 hari ke belakang, 3 hari berturut-turut anak-anakku makan daging sapi. Tumis daging giling, sop daging sapi, lalu hari ini semur daging. Aku menuliskannya sebagai syukur, karena biasanya kami menyajikan menu daging untuk 1 minggu sekali. Bersyu...

Menang Melawan Diri Sendiri

​Sore itu, anakku menangis dan tantrum tanpa sebab menjelang waktu tidur. ​Awalnya diriku sabar dan tenang. Begitu teriakkan dan tangisnya sudah berlangsung di atas 20 menit, kesabaranku sudah hampir habis. ​Meski begitu, tetap kuusap-usap anak manisku, kupijit-pijit kakinya, ia masih juga berontak, kupeluk lagi, kuusap lagi punggungnya. ​Tangis dan tantrum tetap berlangsung lama. Kesal dan marah bergumul di dadaku dan sudah hampir termuntahkan dari kerongkongan. ​Teringat teori conscious parenting yang sudah genap kupelajari. ​Kutarik napas dalam, kuambil Al-Ma'tsurot dan kubaca sambil mengusap rambutnya. Tangisnya masih ada namun berjeda, tidak terus-menerus, lama-kelamaan mereda. ​10 menit tak terasa berlalu, Al-Ma'tsurot sudah habis kubaca, kami berpelukan, kuusap-usap kepalanya dan kupijit-pijit kakinya. ​Tangisnya mereda, hampir 1 jam kami melalui proses tersebut. Aku lega, marahku tidak berubah menjadi bentakkan yg mungkin akan membuat luka di hatinya, kesalku tidak b...

Perjalanan Membaca di Tahun 2025

Di awal tahun, aku menetapkan angka target membaca 25 buku dalam 1 tahun ini. Yaaa.. 25 in 25 (supaya cantik) Alhamdulillah tercapai, bahkan melebihi target! *celebrating my small win* Jika selama ini aku menghabiskan banyak buku non-fiksi, tahun ini aku melahap banyak buku-buku fiksi. Dari buku-buku fiksi, aku berkelana ke dunia yang belum pernah kudatangi, aku melihat dari perspektif yang belum pernah kubayangkan, aku mendengar suara yang selama ini begitu jauh, dan aku merasakan banyak perasaan yang belum pernah kurasakan sebelumnya. Hatiku penuh. Benar kata J.S Khairen, buku fiksi untuk hati, non-fiksi untuk otak. Bacalah keduanya. Selain itu, seperti tahun-tahun sebelumnya, aku termotivasi mengikuti reading challenge dari bbbbookclub (Buibu Baca Buku Book Club), dan tahun ini aku semakin termotivasi karena komunitas ini mengadakan pertemuan offline ! di Depok. Tepatnya di Aksata Coffee & Library. Semangatku selalu tumbuh saat berangkat dan hatiku selalu penuh saat p...