Menjaga Fitrah Belajar

Saat memilih SD untuk Tsabit, aku ingat benar, bahwa sekolah sekarang tidak menggunakan sistem ranking.

Aku cukup lega karena aku ingin memupuk motivasi belajar secara internal kepada anak-anakku.

Bahwa belajar karena suka.

Belajar karena dengan belajar, ilmu semakin bertambah.

Bahwa dengan belajar, pengetahuan semakin luas.

Bahwa dengan banyak memahami, kita dapat menjadi bijaksana.


Aku menyadari bahwa buku paket dari sekolah anakku hanyalah rangkuman dari banyaknya ilmu pengetahuan di dunia.

Misalnya, tema tentang air hanya dibahas dalam beberapa lembar.

Padahal, satu tema saja bisa membawa kita pada begitu banyak pertanyaan.

Mengapa Allah menciptakan air?

Bagaimana hujan bisa turun?

Mengapa laut asin?


Karena itu, aku mengajak anak-anak berdiskusi banyak saat di rumah. Aku ingin mereka memahami bahwa belajar tidak terbatas di dalam gedung sekolah.

Karena itu juga, hampir setiap akhir pekan aku memboyong mereka ke perpustakaan.

Di sana, ada begitu banyak ilmu pengetahuan tak ternilai yang tersimpan dalam buku-buku.

Waktu yang kuhabiskan untuk membacakan buku dan berdiskusi dengan anak-anak adalah salah satu bagian favoritku dalam membersamai mereka.

Kami bisa menghabiskan waktu sehari penuh jika datang ke perpustakaan. Sejak perpustakaan buka hingga tutup. 

Semoga kelak, ketika mereka dewasa, anak-anak selalu mengingat memori ini.


Semester 1 berlalu.

Tsabit dan Qiya tetap gemar belajar. Aku mendampingi mereka belajar setiap hari. Tidak terbatas pada materi sekolah, tetapi tentang apa pun yang menarik perhatian mereka di dunia.

Tak diduga, Tsabit kemudian diutus sekolah mengikuti lomba dua kali: storytelling dan kompetisi matematika.

Such a good start.

Sampai akhirnya semester 2 berakhir.

Aku terkejut ketika wali kelasnya berkata,

“Bunda, dari hasil belajar satu tahun ini, Tsabit mendapat peringkat 1 di kelas.”

Aku kaget. Tsabit juga kaget. Sebab, yang aku tahu, sekolahnya tidak menggunakan sistem ranking.


Masya Allah.

Aku terharu dan bangga terhadapnya.

Terharu atas pencapaian Tsabit. Terharu melihat satu tahun proses belajarnya ternyata membuahkan hasil yang begitu baik.

Namun di sisi lain, ada sedikit rasa takut.

Takut jika kelak anakku belajar semata-mata karena mengejar sesuatu dari luar dirinya.

Takut jika belajar yang awalnya karena rasa ingin tahu, perlahan berubah menjadi sekadar mengejar nilai dan peringkat.

Aku ingin mereka mencintai belajar dalam waktu yang lama. Mencintai belajar seumur hidupnya.

Belajar karena ingin tahu.

Belajar karena dunia ini begitu luas untuk dipelajari.

Belajar karena ilmu membuat kita memahami lebih banyak hal.

Dan belajar agar kelak ilmu yang dimiliki dapat membawa kebaikan bagi dirinya dan orang lain.


Maka aku hanya bisa terus mendampingi dan berdoa.

Semoga anak-anak tetap terpelihara fitrah belajarnya sepanjang hidupnya.

Semoga semakin banyak ilmu yang mereka miliki, semakin mereka mengenal kebesaran Allah.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

To Be Loved Like This

Menikah: adjust everything consciously, sincerely.

Resensi Film: Rudy Habibie