Postingan

Menampilkan postingan dengan label Parenting

Love Confession

Ketika menjadi orangtua, kita baru merasakan betapa cinta kita kepada anak-anak luar biasa. Saat mendapati momen berdua saja dengan anak, aku seringkali menyampaikan perasaanku. Tak terasa saat ini posisiku adalah sebagai orangtua, bukan lagi hanya sebagai anak. Aku pun terkejut dengan kata-kata yang secara spontan saja mengalir dari mulutku. Sore tadi, aku sampaikan pada sulungku, "Umi banggaaa sekali sama Abang, karena hari ini Abang bersikap baik terhadap orang di sekitar Abang.  Umi juga senang karena Abang suka bertanya hal yang Abang ingin ketahui.  Tandanya abang memiliki rasa ingin tahu.  Abang.. semakin banyak Abang tahu, semakin banyak ilmu yang Abang dapat. Allah sayang dengan orang yang berilmu. Semoga Abang selalu senang mencari ilmu." Siang harinya, saat Abang sekolah, dan aku berdua saja dengan Adek, aku sampaikan hal yang serupa, "Umi sayang sekali sama cantiknya umi, Adek hebat hari ini makannya lahap, kalau makannya lahap, Adek jadi sehat. Allah suka an...

Menanti Hikmah di Depan Sana

"Nanti pasti ada hikmahnya yang belum kuketahui sekarang." Mungkin itulah yang berkali-kali aku ucapkan dalam hatiku sore ini. Sejak Tsabit berusia 1,5 tahun, sudah kuperkenalkan dia dengan Montessori. Montessori sudah sangat akrab dengan kesehariannya.  Dampak yang kulihat dari praktik montessori diantaranya: rentang fokusnya tinggi, logikanya terasah, keinginan belajar yang tinggi, memahami keteraturan, serta mandiri. Aku dan suamiku bersepakat ingin menyekolahkan Tsabit di sekolah Islamic Montessori dekat rumah. Paket lengkap menurutku. Kurikulum Islamic dapat, kurikulum Montessori dapat.  Tibalah hari ini, 10 Januari 2022. 6 bulan sebelum tahun ajaran baru dimulai. Untuk pertamakalinya kami survey di Sekolah tersebut.  Aku langsung jatuh hati dengan kurikulumnya. Biaya masuknya pun worth the price . Jarak dari rumah dekat sekali.  Sayang beribu sayang, kuota sudah penuh.  Sedih tak dapat kupungkiri. Meski begitu, Miss nya tetap mengajak Tsabit ke kelas untuk...

Menjadi Sadar dan Berlatih Sabar

Aku teramat mencintai anak-anak, sangat nyaman mengasuh, juga mengajari anak-anak. Luar biasa bersyukur atas anugerah indah ini, buah hati anugerah Allah, Tsabit dan Qiya. Dulu, saat belum menikah, pernah terpikir di benakku;  Memang bisa ya seorang ibu kehilangan sabar? Bukankah anak adalah kebahagiaan?. Ah aku pasti bisa menjadi ibu yang penyabar. Ya. Aku memang berhasil melalui 2 tahun kehidupan pertama anakku (bisa dibilang) dengan hati lapang dan tenang, semua anugerah dari Allah. Anakku tumbuh dengan sangat baik. Tak pernah aku membentak anakku, apalagi memukul. Alhamdulillah. Sampai suatu saat, datanglah masa dimana anakku berada pada fase toddler yang;  memiliki otoritas dan pilihannya sendiri, sudah bisa menolak,  dan amat berpegang kuat pada pendapat dan kemauannya. Ya.. Sebenarnya aku tahu karakter ini baik untuk kehidupannya kelak; anak berlatih mengambil keputusan beserta konsekuensinya, juga berlatih untuk mengutarakan pendapat dan memiliki opini -- tentu s...

Perjalanan Literasi Tsabit

Ketika hamil Tsabit, hampir setiap waktu aku membaca buku, setiap minggu aku membeli buku baru. Ketika Tsabit kecil mulai menendang-nendang di dalam perutku, aku mulai membacakan khusus untuknya. Aku membaca apa saja; Al-Qur’an, terjemah Al-Qur’an, sampai buku anak-anak. Aku membacakan dengan ekspresif seolah sedang berkomunikasi langsung dengannya. 3 bulan pertama kelahiran Tsabit, aku masih cuti di rumah. Aku sangat mengingat perkataan konsulen sarafku ketika sekolah dulu. Bahwa indera yang pertama kali berfungsi dalam kehidupan manusia adalah indera pendengaran. Karenanya aku bacakan Tsabit segala hal yang baik-baik; Al-Qur’an, hafalan surat-surat pendek, nyanyian anak-anak, serta sering mengajaknya mengobrol dan bercerita. Memang, bayi belum dapat merespon sebagaimana orang dewasa, namun ia mengerti, ia paham jika sedang diajak berkomunikasi. Di usianya yang ke-3 bulan, aku membelikannya buku bertamanya; buku bantal berjudul “Hoaam” terbitan rabbithole. Ternyata ia penasaran dan te...