Postingan

Menjadi Sadar dan Berlatih Sabar

Aku teramat mencintai anak-anak, sangat nyaman mengasuh, juga mengajari anak-anak. Luar biasa bersyukur atas anugerah indah ini, buah hati anugerah Allah, Tsabit dan Qiya. Dulu, saat belum menikah, pernah terpikir di benakku;  Memang bisa ya seorang ibu kehilangan sabar? Bukankah anak adalah kebahagiaan?. Ah aku pasti bisa menjadi ibu yang penyabar. Ya. Aku memang berhasil melalui 2 tahun kehidupan pertama anakku (bisa dibilang) dengan hati lapang dan tenang, semua anugerah dari Allah. Anakku tumbuh dengan sangat baik. Tak pernah aku membentak anakku, apalagi memukul. Alhamdulillah. Sampai suatu saat, datanglah masa dimana anakku berada pada fase toddler yang;  memiliki otoritas dan pilihannya sendiri, sudah bisa menolak,  dan amat berpegang kuat pada pendapat dan kemauannya. Ya.. Sebenarnya aku tahu karakter ini baik untuk kehidupannya kelak; anak berlatih mengambil keputusan beserta konsekuensinya, juga berlatih untuk mengutarakan pendapat dan memiliki opini -- tentu s...

Dia adalah Suamiku

 Dia adalah suamiku,  yang menyortir buku-buku yang kubeli dengan mengecek latar belakang penulisnya terlebih dahulu sebelum kubaca. Dia adalah suamiku, yang mem-filter orang-orang yang aku follow di Instagram. Meng-unfollow "selebgram-selebgram" yang tidak memberi faedah untukku. Dia adalah suamiku, yang selalu menanyakan apa film yang aku tonton. Sebab, ideologi-ideologi yang bertentangan dengan islam, pun hal yang syubhat, dapat masuk ke dalam jiwa dan pikiran secara halus melalui syair dan kata-kata tanpa kita sadari, apabila kita terus mengonsumsi media yang menyampaikannya. Sebab, pola pikir kita dipengaruhi oleh pengalaman yang kita alami secara terus-menerus. Sebab, aku adalah sekolah pertama bagi anak-anaknya. Dia memastikan gurunya memberikan pengajaran dan pemahaman yang baik tentang dunia dan tujuan hidup di dunia. Dia adalah suamiku, teman diskusiku, yang memberikan keamanan dan ketenangan, yang meneruskan estafet perjuangan orangtuaku dalam menjagaku dan memberi...

Perjalanan Literasi Tsabit

Ketika hamil Tsabit, hampir setiap waktu aku membaca buku, setiap minggu aku membeli buku baru. Ketika Tsabit kecil mulai menendang-nendang di dalam perutku, aku mulai membacakan khusus untuknya. Aku membaca apa saja; Al-Qur’an, terjemah Al-Qur’an, sampai buku anak-anak. Aku membacakan dengan ekspresif seolah sedang berkomunikasi langsung dengannya. 3 bulan pertama kelahiran Tsabit, aku masih cuti di rumah. Aku sangat mengingat perkataan konsulen sarafku ketika sekolah dulu. Bahwa indera yang pertama kali berfungsi dalam kehidupan manusia adalah indera pendengaran. Karenanya aku bacakan Tsabit segala hal yang baik-baik; Al-Qur’an, hafalan surat-surat pendek, nyanyian anak-anak, serta sering mengajaknya mengobrol dan bercerita. Memang, bayi belum dapat merespon sebagaimana orang dewasa, namun ia mengerti, ia paham jika sedang diajak berkomunikasi. Di usianya yang ke-3 bulan, aku membelikannya buku bertamanya; buku bantal berjudul “Hoaam” terbitan rabbithole. Ternyata ia penasaran dan te...

Surat Balasan

Assalamu’alaikum untuk Hanifah Rahmania, 23 tahun Ini aku, dirimu yang berusia 24 tahun. Terima kasih telah mengirimiku surat , bahkan sejak kau berusia  19 tahun Alhamdulillah, kabarku baik, bahkan aku dalam keadaan terbahagia yang pernah kurasakan. Maaf tidak langsung membalas suratmu segera setelah aku menikah. Aku terlalu fokus dengan kehidupan baru sebagai ibu rumah tangga, hehe. Ya, seperti permintaanmu, bahwa surat ini kutulis setelah aku menikah. Sebelumnya aku ingin mengucapkan terima kasih karena kau telah melewati masa remaja dengan baik. Kalau ada yang ingin aku ulangi, aku ingin lebih giat menghafal al-qur’an sehingga bekal hafalanku lebih banyak. Alhamdulillah, kini aku telah menikah dengan seorang lelaki pilihan Allah dan tentu pilihan hatiku. Kami menikah pada tanggal 8 April 2018. Pernikahan sederhana yang penuh cinta. Tak perlu aku deskripsikan bagaimana orangnya, karena terlampau banyak kebaikannya. Sehingga aku merasa menjadi istr...

Priceless

2017 telah berganti 2018 Allah berikan kesempatan bernapas lebih lama lagi. Semoga selalu ada kebermanfaatan di setiap hembusan napas ini. Syukur kepada Allah atas limpahan nikmat yang Dia berikan setahun kemarin. Mulai menjalani kehidupan praktik di tahun ini, dimulai dari klinik di dekat rumah. I'm so happy for doing what I like. Benar saja apa yang kupelajari ketika semester 1. Bahwa membangun rapport (kepercayaan) di awal komunikasi, efektif membuat pasien nyaman diperiksa dan berkonsultasi dengan dokter. Ada satu prinsip yang diajari guru kami, bahwa parameter pelayanan yang baik bukan di saat kita senantiasa tersenyum kepada pasien. Melainkan ketika kita mendapati senyum yang tulus dari pasien setelah selesai pemeriksaan, itulah tanda baiknya pelayanan kita. Dan bagiku, hal sederhana seperti  itu merupakan nikmat yang priceless. Alhamdulillah. Terima kasih ya Allah. 

A Reply (Sebuah Surat Balasan)

Dear 19 years old Hanifah Rahmania, It is me, you in 23 years old. Thank you for sending me a message 4 years ago Link:  Dear Me (Surat dari Hanifah Rahmania, 19 tahun) And also thank you for remind me that no matter what happen, I have to reply your message. Bismillah I am fine and also my family. Alhamdulillah we are healthy, love each other, and of course support each other. How lucky i am to have them as my family. Dear young me, I have to tell you that 2 weeks ago was my happiest moment in 2017. That is.. Finally after 5,5 years being medical student, I have been reached my dream to become a doctor. Yes! you was right 4 years ago that today you are able to call me a doctor. Thank you for your struggle, hardwork, and sacrifice. If you didn’t study harder and pray hardest yesterday, may be today I wouldn’t reached my dream this fast. But over all, these all happen because of Allah’s blessings. Alhamdulillah. Thank you Allah for becoming what...

Biggest Gift in December: Lulus UKMPPD

Gambar
Bismillah Menurut jadwal, hasil UKMPPD akan diumumkan pada tanggal 23 Desember 2017. Ternyata pengumuman dimajukan satu minggu lebih awal. Tepatnya tanggal 16 Desember pukul 00.30 dini hari. Aku sudah tertidur dengan tenang satu jam sebelumnya, sebab tak menduga pengumuman akan dimajukan. Jika aku tahu pengumuman dimajukan, sudah tentu aku akan terjaga menanti hasil pengumuman UKMPPD. Sebelum fajar tiba aku terbangun dan melihat banyak notifikasi muncul di HP-ku. Yang pertama kali muncul adalah pesannya Nico di group whatsapp Bukan Geng. “ Selamat ya kita lulus semua” Deg.. Notifikasi terus bermunculan, kali ini, “Alhamdulillah..Masya Allah..Allahuakbar” Rasa kantukku sekejap hilang, segera kubuka group dan sudah tertera screenshoot hasil kelulusan. Aku gemetaran tak menyangka. Setelah memastikan namaku tertera lulus dalam website PNUK (Panitia Nasional Uji Kompetensi), aku bersujud penuh syukur. Aku langsung membangunkan Salma, “Dek, mba lulus...