Postingan

Behind the Scene

Saya bahagia menikmati kehidupan behind the scene. Atau kalimatnya bisa diganti dengan saya bahagia menikmati proses kehidupan ini. Kehidupan yang sebenarnya, kehidupan tanpa pernak-pernik. Because happiness is journey not destination. Kita seringkali terkagum-kagum melihat orang-orang sukses, berharap ingin seperti itu, hidup yang serba mudah. Begitupun juga orang-orang seringkali melihat kita dari tampak permukaan luarnya saja. Padahal yang dilihat hanya sebagian saja, bukan seluruh hidupnya. Pengetahuan yang sebagian ini yang seringkali menimbulkan ke-soktahu-an sisanya. Saya belajar dan berusaha untuk tidak men- judge orang dari permukaan luarnya saja, karena saya percaya setiap orang melalui kehidupan dengan prosesnya masing-masing. Di era tanpa batas, menggunjingkan kehidupan orang lain menjadi tren terutama di kalangan wanita. Saya memiliki sahabat di SMA, sebut saja namanya Yaya, yang sifatnya patut ditiru; Disaat teman-teman lain sedang sekedar...

Jangan Berhenti

Dan meskipun bebintang tak nampak di langit malam ini Jangan berhenti percaya bahwa ia selalu ada Dan meskipun harapmu belum terkabul untuk saat ini Jangan pernah berhenti berdo’a Dan kerikil yang menghalangi jalanmu Dan debu yang merabunkan pandangmu Jangan biarkan hal-hal kecil menggoyahkan tujuan yang besar Jangan pernah berhenti percaya bahwa kau hampir sampai “Jika aku jatuh cinta, aku ingin jatuh cinta dengan damai. Yang ketika kutahu dia menujuku, aku tenang karena dia melalui jalan yang benar. Yang ketika aku menyambutnya, dia bahagia karena aku berada di pintu yang seharusnya.” -@wadiandini

Goodbye Sunrise

Gambar
Sudah 2/9 minggu berada di stase yang baru. Semoga belum telat untuk mengucapkan welcome to stase interna. Sebenarnya, stase penyakit dalam ini adalah stase yang amat saya tunggu-tunggu. Karena bagi saya, penyakit dalam ini adalah stase yang paling kompleks, komprehensif, paling muter otak, dan paling banyak kesempatan mendapatkan ilmu. Robbii zidnii ‘ilma warzuqni fahma. Seperti judul blog ini, k ehidupan selama menjadi coass penyakit dalam mungkin merupakan kehidupan the real coass . Setiap hari harus sudah siap sebelum azan shubuh, sehingga setelah azan shubuh berkumandang, segera sholat kemudian berangkat untuk follow up pasien yang jumlahnya lumayan banyak sebelum konsulen datang. Membelah pagi. Rembulan masih bersinar. Sehingga selama sembilan minggu kedepan kami mungkin tidak akan melihat matahari terbit. Stase ini juga merupakan stase yang paling banyak jaga UGD nya, satu-satunya stase yang ada konferensi di setiap pekannya, serta stase dengan konsulen ...

Sepanjang Hidup

Bismillah Saya sempat memiliki persepsi yang keliru ketika lulus sekolah. Ketika target hafalan al-Qur’an dan target kompetensi pelajaran sudah terlampaui saya pikir itu adalah tujuan yang telah tercapai. Karena selama sekolah saya selalu bertekad untuk menyelesaikan daftar target-target dan sudah cukup puas dengan menceklis target yang telah tercapai. Ternyata saya salah besar. Saya menyadari ada kemiripan antara menghafal Qur’an dan belajar. Keduanya merupakan proses seumur hidup. Meskipun ada waktu yang membatasi misal kelulusan, capaian kompetensi, ataupun sudah hafal 30 juz, Sungguh itu bukanlah hasil akhir melainkan permulaan untuk menjadi semakin dekat dan lebih dekat. Dan sungguh itu merupakan awal untuk semakin memahami dan lebih memahami. Menghafal al-Qur’an dan mencari ilmu merupakan salah satu diantara media yang membuat kita semakin membangun kedekatan dengan Allah SWT. Saya mendapat nasihat yang amat baik dari sebuah buku, “Sebenarnya saa...

Welcome to Stase THT

Bismillah. Semua coass yang sudah pernah melewati stase THT di RS Ahmad Yani tentu sudah tahu bagaimana rasanya bertemu dengan dokter spesialis THT yang amat ramah, cerdas, humoris dan suka bercerita. Jangan salah, pasien THT banyaaak sekaliii. Ilmu yang diberikan dokter HY, Sp. THT juga banyaak sekalii dan membuat saya menjadi semakin merasa belum tahu apa-apa. Sempat terlintas juga bagaimana kalau saya menjadi dokter spesialis THT saja. Hahaha.. begitulah saya, ketika di stase obgyn, saya sudah bertekad ingin menjadi spesialis obgyn saja, ketika di stase anak juga begitu, ketika di stase saraf pun ingin menjadi spesialis saraf. Selain ilmu yang kami dapatkan di stase ini, setiap hari dokter HY akan bercerita mengenai pengalamannya semasa dahulu yang menginspirasi kami. Dan yang tak pernah absen dari pertemuan kami adalah masing-masing kami akan ditanyai beliau mengenai pasangan alias pacar, yang semakin hari maka pertanyaannya akan semakin mendetail. Pertama...

Menjadi Asing

Teringat pesan murabbi suatu hari, “Ada apa ya sebenarnya dengan rumah sakit?” “Beberapa kakak-kakak kalian yang aktivis di lembaga keislaman saat di kampus kok ya sekarang berubah, sedih ya, ada yang mulai meninggalkan liqo karena alasan sibuk, ada yang sudah punya teman spesial, ada yang sudah mulai pakai make up.. Anehnya hal itu memang terjadi dari tahun ke tahun. Ummi harap kalian jangan ya, cobalah kalian lihat nanti, apa sih yang sebenarnya terjadi di rumah sakit” , ujar ummi sedikit tertawa. “Huhuhu.. jadi takut ummi, insya Allah kami tidak akan seperti itu ummi, do’akan kami ya mi” , ujar kami kompak. Secara tidak langsung itulah janji dan tekad kami yang terpatri; untuk tetap istiqomah kapanpun dan dimanapun. Izinkan kami untuk terjaga selalu di jalan-Mu ya Allah. Seingat saya itu adalah percakapan terakhir kami sebelum ‘dimutasi’ ke Metro. Salah satu hari tersedih adalah hari itu. One of the best part of my life adalah berada dalam lingkaran itu, ketika ummi ...

Hikmah Pendengaran

Di stase saraf, saya banyak menyaksikan pasien stroke dengan penurunan kesadaran. Dokter saya mengajarkan untuk melakukan breaking bad news tidak di depan pasien meskipun pasien tersebut sedang koma. Karena kabar yang buruk dapat membuat keadaannya semakin memburuk. Beliau juga selalu berpesan kepada keluarga pasien yang sedang kritis, “Ibu, pasien ini meskipun tidak sadar tetapi dapat mendengar. Dapat mendengar namun tidak dapat berespon. Jadi alangkah baiknya jika orang-orang tersayang selalu berada di sekitarnya, membisikkan do’a-doa dan semangat agar keadaannya membaik. Itulah mengapa meskipun koma terkadang air mata tetap dapat mengalir dari matanya sebagai respon terhadap pendengarannya” “..Dan Dia jadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan, dan hati (akal fikiran), nemun sedikit sekali kamu yang bersyukur.”(QS. As-Sajadah : 9). “..Sesungguhnya  pendengaran dan penglihatan dan hati semuanya itu akan di minta pertanggung jawabannya.. “ (QS Al-Isro : 36) ...