Postingan

Unexplainable Feeling & Unexpected Action

Hari itu ulang tahun sulungku, Tsabit. Aku senang merayakan hal-hal yang berbau momentum, meskipun sederhana. Aku berharap hal itu bisa menjadi tabungan cinta anak-anakku kelak. Dengan diriku yang tidak 24 jam di rumah, aku senang dengan teori tabungan cinta, quality over quantity. Mungkin itu juga yang aku dapatkan dari orangtuaku dulu, bahasa cinta orangtuaku adalah physical touch dan word of affirmation. Peluk, cium, dan ungkapan sayang memenuhi masa kecilku,  sehingga meskipun kedua orangtuaku bekerja dan kami masuk pesantren di usia dini (12 tahun), Alhamdulillah, masa kecil kami indah dan banjir kasih sayang. Alhamdulillah. Kembali ke cerita hari itu, syukuran hari ulang tahun itu sudah kami rencanakan 7 hari sebelumnya. Qodarullah, suamiku mendapat tugas dinas luar pulau pada H-3 acara. Sebagai istri, aku berusaha legowo. Acara tetap dilanjutkan. Nenek dan kakeknya anak-anak membawa hadiah sepeda untuk Tsabit. Tsabit senang bukan kepalang.  Memang aku dan suami berenca...

Refleksi 5 Tahun

5 tahun yang lalu, aku berusia 23 tahun jelang 24. 5 tahun yang lalu adalah tahun dimana banyak momentum terjadi. Akhir Januari, aku dilantik menjadi dokter. Bulan Februari, aku dilamar. Bulan April, kami menikah, Setahun kemudian, aku menjadi ibu. Dua tahun kemudian, aku menjadi ibu dua anak. Banyak yang sudah aku lalui. Allah menjadikannya mudah, nikmat, penuh anugerah. Mungkin ada masa-masa sulit, tapi sungguh, aku sulit untuk mengingatnya, hanya kebahagiaan yang terekam dalam memoriku. Alhamdulillah.  Hadza min fadhli rabbii.. Terima kasih untuk hatiku, pikiranku, diriku yang telah melalui banyak hal. Sejak 5 tahun yang lalu hingga hari ini dan selamanya, hatiku amat berpaut pada keluarga kecilku ini. Segala keputusanku, rencanaku, tindakanku, kesukaanku, dan ilmu yang kupelajari; kubaktikan untuk membangun keluarga dan mendidik anak-anakku. Semoga Allah memudahkanku untuk dapat mencapai impianku, yakni sebuah do'a yang kupanjatkan sejak dahulu, saat belum menikah dan belum men...

Menanti Hikmah di Depan Sana

"Nanti pasti ada hikmahnya yang belum kuketahui sekarang." Mungkin itulah yang berkali-kali aku ucapkan dalam hatiku sore ini. Sejak Tsabit berusia 1,5 tahun, sudah kuperkenalkan dia dengan Montessori. Montessori sudah sangat akrab dengan kesehariannya.  Dampak yang kulihat dari praktik montessori diantaranya: rentang fokusnya tinggi, logikanya terasah, keinginan belajar yang tinggi, memahami keteraturan, serta mandiri. Aku dan suamiku bersepakat ingin menyekolahkan Tsabit di sekolah Islamic Montessori dekat rumah. Paket lengkap menurutku. Kurikulum Islamic dapat, kurikulum Montessori dapat.  Tibalah hari ini, 10 Januari 2022. 6 bulan sebelum tahun ajaran baru dimulai. Untuk pertamakalinya kami survey di Sekolah tersebut.  Aku langsung jatuh hati dengan kurikulumnya. Biaya masuknya pun worth the price . Jarak dari rumah dekat sekali.  Sayang beribu sayang, kuota sudah penuh.  Sedih tak dapat kupungkiri. Meski begitu, Miss nya tetap mengajak Tsabit ke kelas untuk...

Menjadi Sadar dan Berlatih Sabar

Aku teramat mencintai anak-anak, sangat nyaman mengasuh, juga mengajari anak-anak. Luar biasa bersyukur atas anugerah indah ini, buah hati anugerah Allah, Tsabit dan Qiya. Dulu, saat belum menikah, pernah terpikir di benakku;  Memang bisa ya seorang ibu kehilangan sabar? Bukankah anak adalah kebahagiaan?. Ah aku pasti bisa menjadi ibu yang penyabar. Ya. Aku memang berhasil melalui 2 tahun kehidupan pertama anakku (bisa dibilang) dengan hati lapang dan tenang, semua anugerah dari Allah. Anakku tumbuh dengan sangat baik. Tak pernah aku membentak anakku, apalagi memukul. Alhamdulillah. Sampai suatu saat, datanglah masa dimana anakku berada pada fase toddler yang;  memiliki otoritas dan pilihannya sendiri, sudah bisa menolak,  dan amat berpegang kuat pada pendapat dan kemauannya. Ya.. Sebenarnya aku tahu karakter ini baik untuk kehidupannya kelak; anak berlatih mengambil keputusan beserta konsekuensinya, juga berlatih untuk mengutarakan pendapat dan memiliki opini -- tentu s...

Dia adalah Suamiku

 Dia adalah suamiku,  yang menyortir buku-buku yang kubeli dengan mengecek latar belakang penulisnya terlebih dahulu sebelum kubaca. Dia adalah suamiku, yang mem-filter orang-orang yang aku follow di Instagram. Meng-unfollow "selebgram-selebgram" yang tidak memberi faedah untukku. Dia adalah suamiku, yang selalu menanyakan apa film yang aku tonton. Sebab, ideologi-ideologi yang bertentangan dengan islam, pun hal yang syubhat, dapat masuk ke dalam jiwa dan pikiran secara halus melalui syair dan kata-kata tanpa kita sadari, apabila kita terus mengonsumsi media yang menyampaikannya. Sebab, pola pikir kita dipengaruhi oleh pengalaman yang kita alami secara terus-menerus. Sebab, aku adalah sekolah pertama bagi anak-anaknya. Dia memastikan gurunya memberikan pengajaran dan pemahaman yang baik tentang dunia dan tujuan hidup di dunia. Dia adalah suamiku, teman diskusiku, yang memberikan keamanan dan ketenangan, yang meneruskan estafet perjuangan orangtuaku dalam menjagaku dan memberi...

Perjalanan Literasi Tsabit

Ketika hamil Tsabit, hampir setiap waktu aku membaca buku, setiap minggu aku membeli buku baru. Ketika Tsabit kecil mulai menendang-nendang di dalam perutku, aku mulai membacakan khusus untuknya. Aku membaca apa saja; Al-Qur’an, terjemah Al-Qur’an, sampai buku anak-anak. Aku membacakan dengan ekspresif seolah sedang berkomunikasi langsung dengannya. 3 bulan pertama kelahiran Tsabit, aku masih cuti di rumah. Aku sangat mengingat perkataan konsulen sarafku ketika sekolah dulu. Bahwa indera yang pertama kali berfungsi dalam kehidupan manusia adalah indera pendengaran. Karenanya aku bacakan Tsabit segala hal yang baik-baik; Al-Qur’an, hafalan surat-surat pendek, nyanyian anak-anak, serta sering mengajaknya mengobrol dan bercerita. Memang, bayi belum dapat merespon sebagaimana orang dewasa, namun ia mengerti, ia paham jika sedang diajak berkomunikasi. Di usianya yang ke-3 bulan, aku membelikannya buku bertamanya; buku bantal berjudul “Hoaam” terbitan rabbithole. Ternyata ia penasaran dan te...

Surat Balasan

Assalamu’alaikum untuk Hanifah Rahmania, 23 tahun Ini aku, dirimu yang berusia 24 tahun. Terima kasih telah mengirimiku surat , bahkan sejak kau berusia  19 tahun Alhamdulillah, kabarku baik, bahkan aku dalam keadaan terbahagia yang pernah kurasakan. Maaf tidak langsung membalas suratmu segera setelah aku menikah. Aku terlalu fokus dengan kehidupan baru sebagai ibu rumah tangga, hehe. Ya, seperti permintaanmu, bahwa surat ini kutulis setelah aku menikah. Sebelumnya aku ingin mengucapkan terima kasih karena kau telah melewati masa remaja dengan baik. Kalau ada yang ingin aku ulangi, aku ingin lebih giat menghafal al-qur’an sehingga bekal hafalanku lebih banyak. Alhamdulillah, kini aku telah menikah dengan seorang lelaki pilihan Allah dan tentu pilihan hatiku. Kami menikah pada tanggal 8 April 2018. Pernikahan sederhana yang penuh cinta. Tak perlu aku deskripsikan bagaimana orangnya, karena terlampau banyak kebaikannya. Sehingga aku merasa menjadi istr...